Pernikahan
Akhir-akhir ini sedang sering dan tertarik sama tema yang sesuai dengan judul, "Pernikahan".
Entah karena naluri, ikut-ikutan, atau memang sudah usianya bahas ini.
Namun, hal yang sedang digali bukan cuma resepsi atau prosedur menikah di negara kita. Lebih ke bagaimana nantinya mempertahankan pernikahan yang samara.
Pernikahan itu bukan hanya sekadar saling cinta, lalu memutuskan untuk bersama. Pastinya keputusan untuk maju ke jenjang pernikahan sudah melalui proses yang panjang dan dipikirkan matang-matang. Kalau cuma keinginan sesaat sih, sudah bisa menebak dong nantinya bagaimana?
Membangun bahtera rumah tangga yang sejahtera dan tanpa cela itu tidak mudah.
Komunikasi yang baik, transparansi, dan penerimaan kuncinya.
Menikah itu kan menyatukan dua kepala menjadi satu. Kita tinggal, hidup, dan setiap hari akan melihat sesorang yang bukan siapa-siapa kita, tadinya bukan siapa-siapa. Apalagi ego manusia besar. Ke"aku"annya sangat kuat.
Penerimaan pada pasangan dalam setiap aspek.
Kalau masakan dia ga seenak masakan ibumu, jangan lantas marah, dia kan bukan koki terkenal.
Kalau dia tidurnya mendengkur, jangan diusir dari kamar.
Perilaku yang suka ceplas ceplos mungkin akan membuatmu tersinggung.
Kebiasaan dia yang suka memanggil kamu saat sedang mandi karena lupa membawa handuk.
Atau dia yang suka menaruh barang sembarangan, dan besoknya dilupakan lalu hilang.
Mungkin hal-hal di atas lucu atau kecil pada awalnya, tapi kalau dihadapi setiap hari, ga enak juga, kan? Hal-hal kecil yang menumpuk bisa menjadi besar juga, jadi bukan hal yang tidak mungkin kalau nantinya hal itu yang membuat hubungan pernikahan kalian memburuk atau lebih parah, membuat kalian memutuskan berpisah.
Bukan berarti tulisan ini menghalangi kalian menikah, karena dalam ajaran agama, pernikahan itu disegerakan. Justru saya ingin membuat kalian lebih menyiapkan diri, untuk bisa menghadapi hal-hal kecil maupun besar dalam pernikahan. Ingat ya, dalam pernikahan itu ubah pikiran "Dia harus" menjadi "Saya akan". Jangan cuma menuntut pasangan kamu, tapi semua balik ke diri sendiri, siapkan diri untuk berkorban demi kepentingan bersama. Sama-sama belajar, agar ke depannya sama-sama lebih dewasa.
Sebenarnya saya juga belum pernah menikah, jadi tulisan ini akan saya jadikan pengingat jika sudah menikah nantinya. Mari kita sama-sama terus belajar dan berusaha!
Entah karena naluri, ikut-ikutan, atau memang sudah usianya bahas ini.
Namun, hal yang sedang digali bukan cuma resepsi atau prosedur menikah di negara kita. Lebih ke bagaimana nantinya mempertahankan pernikahan yang samara.
Pernikahan itu bukan hanya sekadar saling cinta, lalu memutuskan untuk bersama. Pastinya keputusan untuk maju ke jenjang pernikahan sudah melalui proses yang panjang dan dipikirkan matang-matang. Kalau cuma keinginan sesaat sih, sudah bisa menebak dong nantinya bagaimana?
Membangun bahtera rumah tangga yang sejahtera dan tanpa cela itu tidak mudah.
Komunikasi yang baik, transparansi, dan penerimaan kuncinya.
Menikah itu kan menyatukan dua kepala menjadi satu. Kita tinggal, hidup, dan setiap hari akan melihat sesorang yang bukan siapa-siapa kita, tadinya bukan siapa-siapa. Apalagi ego manusia besar. Ke"aku"annya sangat kuat.
Penerimaan pada pasangan dalam setiap aspek.
Kalau masakan dia ga seenak masakan ibumu, jangan lantas marah, dia kan bukan koki terkenal.
Kalau dia tidurnya mendengkur, jangan diusir dari kamar.
Perilaku yang suka ceplas ceplos mungkin akan membuatmu tersinggung.
Kebiasaan dia yang suka memanggil kamu saat sedang mandi karena lupa membawa handuk.
Atau dia yang suka menaruh barang sembarangan, dan besoknya dilupakan lalu hilang.
Mungkin hal-hal di atas lucu atau kecil pada awalnya, tapi kalau dihadapi setiap hari, ga enak juga, kan? Hal-hal kecil yang menumpuk bisa menjadi besar juga, jadi bukan hal yang tidak mungkin kalau nantinya hal itu yang membuat hubungan pernikahan kalian memburuk atau lebih parah, membuat kalian memutuskan berpisah.
Bukan berarti tulisan ini menghalangi kalian menikah, karena dalam ajaran agama, pernikahan itu disegerakan. Justru saya ingin membuat kalian lebih menyiapkan diri, untuk bisa menghadapi hal-hal kecil maupun besar dalam pernikahan. Ingat ya, dalam pernikahan itu ubah pikiran "Dia harus" menjadi "Saya akan". Jangan cuma menuntut pasangan kamu, tapi semua balik ke diri sendiri, siapkan diri untuk berkorban demi kepentingan bersama. Sama-sama belajar, agar ke depannya sama-sama lebih dewasa.
Sebenarnya saya juga belum pernah menikah, jadi tulisan ini akan saya jadikan pengingat jika sudah menikah nantinya. Mari kita sama-sama terus belajar dan berusaha!
Comments
Post a Comment